Jakarta – Peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum penting untuk melihat arah pembangunan generasi muda Indonesia melalui kebijakan nyata di Jakarta pada Rabu 28 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menghadirkan berbagai program yang menyentuh kebutuhan pemuda sejak usia dini. Program tersebut mulai dari pemenuhan gizi, pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran, hingga pembukaan peluang kerja dan karier di tingkat global.
Oleh karena itu langkah tersebut menunjukkan bahwa upaya mencetak generasi unggul tidak cukup hanya dengan mendorong anak muda untuk bermimpi besar. Pemerintah perlu hadir melalui program yang menyentuh langsung kebutuhan mereka.
Karakter Pemuda Jadi Titik Awal Kemajuan Bangsa
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Syahganda Nainggolan mengatakan pemerintah menempatkan pembangunan karakter sebagai bagian penting dalam menyiapkan generasi muda Indonesia menghadapi masa depan.
“Negara menempatkan karakter anak muda sebagai titik awal kemajuan. Pemerintah membentuk generasi yang tidak menyerah saat menghadapi kesulitan dan tidak runtuh saat gagal. Negara membuka jalan agar pemuda berani bermimpi setinggi langit dan bekerja sekeras mungkin sampai memberi yang terbaik bagi bangsa,” ujar Syahganda.
Selain itu komitmen tersebut tercermin dalam sejumlah program yang dirancang untuk menjangkau kebutuhan generasi muda di berbagai tahap kehidupan. Mulai dari memastikan anak tumbuh sehat, membuka akses pendidikan yang lebih merata, menghadirkan ruang belajar yang layak dan modern, hingga membekali lulusan baru dengan pengalaman kerja serta peluang menembus pasar global.
MBG dan Sekolah Rakyat Jadi Fondasi Generasi Unggul
Pembangunan generasi unggul dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar termasuk gizi. Melalui program Makan Bergizi Gratis, pemerintah berupaya mendukung tumbuh kembang anak sekaligus memperkuat kesiapan mereka dalam mengikuti proses pendidikan.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional per 9 Oktober 2026, program MBG telah menjangkau 57,5 juta penerima melalui 26.385 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Penerima manfaatnya terdiri atas 46,2 juta peserta didik, 3,9 juta pendidik dan tenaga kependidikan, serta 7,4 juta kelompok rentan. Selanjutnya pemerintah menargetkan jangkauan program ini meningkat menjadi 72,4 juta penerima pada 2027.
Sementara itu pemerintah juga memperluas kesempatan belajar melalui program Sekolah Rakyat. Per 23 September 2026, Sekolah Rakyat telah beroperasi di 182 titik dan melayani sekitar 44.000 siswa. Kemudian jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 150 ribu siswa pada 2027 dengan target pembangunan 500 Sekolah Rakyat permanen hingga 2029.
Revitalisasi dan Digitalisasi Pendidikan Hingga Magang Nasional
Upaya memperluas akses pendidikan berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas sarana pendidikan. Sepanjang 2025, sebanyak 16.167 sekolah telah direvitalisasi. Selanjutnya revitalisasi terhadap 11.744 sekolah pada 2026 telah berjalan sekitar 70 persen dan targetnya diperluas menjadi 71.744 sekolah atas arahan Presiden Prabowo.
Selain itu pemerintah juga mendorong pembelajaran adaptif melalui program digitalisasi pendidikan. Sepanjang 2025, papan interaktif digital telah didistribusikan ke 288.865 satuan pendidikan di seluruh Indonesia dan pada 2026 setiap sekolah menerima tambahan tiga unit.
Setelah fondasi pendidikan diperkuat, perhatian pemerintah berlanjut pada transisi lulusan baru menuju dunia kerja melalui Program Magang Nasional. Program magang selama enam bulan dengan uang saku dari negara ini menargetkan 100 ribu peserta pada 2025 dan 150 ribu peserta pada 2026. Hasilnya sekitar 30 ribu peserta program magang 2025 telah direkrut menjadi karyawan tetap.
Peluang Hingga Mancanegara Lewat SMK Go Global
Peluang pengembangan talenta muda juga diperluas hingga pasar kerja internasional melalui program SMK Go Global. Presiden menjalankan program ini untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang dapat bekerja ke luar negeri melalui jalur yang legal dan aman.
Sejak pendaftaran dibuka pada 12 Agustus 2026, program tersebut telah menjangkau 7.239 peserta dari target 40.000 orang pada tahun ini. Selanjutnya pemerintah menargetkan penyiapan 500.000 talenta hingga 2029 yang terdiri atas 300.000 lulusan SMK dan 200.000 masyarakat umum.
Dengan demikian rangkaian kebijakan tersebut memperlihatkan pendekatan pembangunan generasi muda yang menyeluruh. Pemerintah tidak hanya berupaya memastikan anak-anak tumbuh sehat dan memperoleh pendidikan, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas pembelajaran dan membuka akses terhadap kesempatan kerja di dalam maupun luar negeri.

